Author Archives: jadul1972

WISATA SPIRITUAL KE PURA GIRI SALAKA DI ALAS PURWA

1Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseoang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik obyek yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga Wisata Spiritual adalah kegiatan perjalanan dengan mengunjungi tempat tertentu guna memuja kebesaran Tuhan YME.

2   Obyek wisata spiritual kali ini yang kami pilih adalah Pura Giri Salaka di Alas Purwo, yang terletak di Kecamatan Tegal Dlimo Kabupaten Banyuwangi. Banyak sekali hal-hal yang sifatnya sacral yang akan kita temui di kawasan Taman Nasional ini. Konon ketika Kerajaan Majapahit runtuh abad ke-14, para manggala kerajaan berucap, “Boleh saja kerajaan mereka dihancurkan, tetapi tunggu lima ratus tahun lagi anak cucu mereka akan bangkit dan menagih kembali bekas wilayah Majapahit.” Itulah yang diyakini sebagian besar umat Hindu Banyuwangi. Di Candi Purwa sendiri masih berjejer patung dengan wujud Sabdopalon dan Noyogenggong yang diyakini sebagai panakawan kerajaan Majapahit (Brawijaya).

Wisata spiritual ini merupakan agenda11kan yang sifatnya dadakan dan tidak terencana, dimana pada hari Kamis tanggal 7 Februari 2013 salah satu kawan yang sudah seperti saudara sendiri, Drh. Dewa Made Koca Kocala namanya, menelepon bahwa punya keinginan tangkil ke Pura Giri Salaka di Alas Purwo pada hari sabtu tanggal 9 Februari 2013. Karena punya komitmen yang sama, maka ajakan itu pun saya iyakan padahal saat ini saya masih berada di Jakarta untuk meeting tugas-tugas perusahaan dan sempat pula mampir ke Pluz+ di Mall Plaza Semanggi makan malam bersama Mas Erwin Prima Arya, Cak Marto, Mas Apri, Mas Henry Ismono, Mas Gienardi Santoso dan kawan-kawan.

Jumat sore tanggal 8 Februari 2013 segera pulang ke Denpasar, diskusi panjang lebar dengan istri tercinta serta mohon doa restu untuk keberangkatan ke Alas Purwo besok siang Sabtu tanggal 9 Februari 2013. Bersyukurlah aku memiliki pasangan hidup yang sangat pengertian dan sangat memahami suami. Untuk membuat keluarga happy, malam itu saya ajak dinner ke Resto do sekitar Jl. Teuku Umara Denpasar.

Sabtu 9 Februari 2013, pukul 09.00 wita iseng-iseng menelepon sahabat yang bernama Mbah Pramono, mengabarkan bahwa saya berada di Bali dan nanti jam 11.00 wita akan berangkat ke Alas Purwo sama Bli Dewa, ternyata sambutannya luar biasa, “kulo nderek mas” jawaban singkat dan jelas. Sementara itu mas Nurkholis yang kesibukannya berdagang batu permata di Pasar Burung Satria juga menyatakan hal yang sama. Kami berangkat dari Denpasar ke Tabanan bertiga untuk menjemput Bli Dewa, ternyata di sana sudah menunggu kawan-kawan lain yang berjumlah 8 orang.

10

Perjalanan di laksanakan dengan gembira dan antusias. Agar dalam perjalanan sampai tujuan dan kembali dengan selamat, beberapa kawan sempat mampir ke Pura Rambut Siwi di Kabupaten Jembrana. Sempat pula makan sore di Ayam Betutu Gilimanuk Bu Lia yang enaknya luar biasa. Tiba di Pelabuhan Gilimanuk suasana sepi sehingga langsung masuk kapal ferry dan tiba tepat waktu di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Rombongan langsung menuju Pura Blambangan untuk mandi ganti baju dan sembahyangan sedangkan kami bertiga yang muslim duduk-duduk minum kopi di bale-bale

Tepat pukul 21.00 Wib rombongan berangkat menuju Alas Purwo dengan ditemani beberapa warga sekitar termasuk Jro Mangku Pura Giri Salaka. Semula jalanan masih di aspal, kemudian setelah masuk area hutan kondisi jalanan sangat parah dan rusak sehingga harus hati-hati dalam mengendalikan kendaraan. Tetapi di kanan dan kiri jalanan pohon-pohon rindang masih berjajar rapi dikepung oleh semak belukar semakin menambah indah suasana hutan itu.

Pukul 22.00 Wib rombonga6n tiba di Pura Giri Salaka, pak Jro Mangku mempersilahkan duduk dan ngobrol dari seputar spiritual hingga politik. Itu semua hanyalah sekedar obrolan warung kopi, toh kami juga bukan ahli politik, akan tetapi yang menarik bahwa banyak pakar politik dan mereka yang terjun ke dunia politik, pernah ke Alas Purwo. Jagung rebus menjadi sajian yang sangat istimewa di dalam hutan yang konon sangat angker ini.

Tepat pukul 23.00 Wib kami mulai tirakatan selama  3 jam, dalam keheningan malam yang kelam hanya terdengar deburan ombak di pantai yang jauhnya dari lokasi itu hanya 1 km, akan tetapi suara deburannya menggelegar seakan-akan ingin mengubur tempat kami duduk bersemadi. Sembahyang terakhir dilakukan di Situs Kawitan, yang apabila dilihat dengan mata batin akan terlihat berbagai hal di luar dugaan. Apa benar di balik Situs Kawitan terdapat istana makhluk halus? Tapi secara batin ada kekuatan yang luar biasa berdiam disana. Akan tetapi tujuan kita tirakatan adalah kembali kepada kekuatan Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi sehingga apa yang tak terlihat itu pun menjadi benar-benar tidak terlihat.

Selamat berkarya dan salam perseduluran

Denpasar, 14 Februari 2013

Categories: Spiritual | Tinggalkan komentar

WISATA SPIRITUAL KE PUCAK KEDATON GUNUNG BATUKARU

Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseoang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik obyek yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga Wisata Spiritual adalah kegiatan perjalanan dengan mengunjungi tempat tertentu guna memuja kebesaran Tuhan YME.

Obyek wisata spiritual yang kami pilih adalah Gunung Batukaru, dengan ketinggian 2.276 DPL merupakan gunung tertinggi kedua setelah Gunung Agung. Gunung Batukaru yang menjadi tulang punggung pertanian di Kabupaten Tabanan memiliki pesona luar biasa. Suasana hutan masih bersih dan terawat dengan baik, karena penduduk di sekitar gunung tersebut ikut serta menjadi penjaganya. Di puncak Gunung Batukaru terdapat Pura Pucak Kedaton yang merupakan salah satu pura yang disakralkan di Bali.

Rencana wisata spiritual ini sudah lama kami agendakan, akan tetapi masih terkendala waktu. Pada hari Minggu tanggal 7 Oktober 2012, kami masih belum diizinkan naik karena menurut informasi dari Bli Kadek, di Desa Pujungan masih hujan deras, sehingga tidak aman bagi pemula untuk naik ke gunung. Akhirnya pada hari Minggu Legi, tanggal 14 Oktober 2012 menurut pitungan baik untuk berpergian dan berbagai macam keperluan.

Pagi-pagi bangun pukul 04.00 wita, sambil menyiapkan perbekalan nyeruput kopi buatan istri tercinta. Bekal yang di bawakan oleh istri berupa baju, sarung, blangkon, air mineral gelas 6, kacang dan keripik tempe. Dengan pelukan penuh kasih sayang serta pesan dari istri agar hati-hati dan jangan melontarkan kata-kata tidak sopan, berangkatlah saya menuju ke Tabanan untuk menjemput kawan yang telah menunggu disana. Tepat pukul 05.00 wita, kami start menuju ke Desa Pujungan Kecamatan Pupuan disana sudah menunggu pula Bli Kadek beserta kawan-kawannya yang siap menjadi tour guide berwisata spiritual ke Gunung Batukaru. Sambil menikmati udara yang sejuk, kami bertiga jalan-jalan ke sekitar rumah Bli Kadek. Mata kami pun tertarik dengan penjual Sate Gule Kambing, sehingga kami pun sarapan disana dengan lahapnya.

Ternyata bekal yang sudah disiapkan oleh Bli Kadek adalah nasi bungkus, air mineral botol tanggung 1 kardus dan aneka perlengkapan sembahyang. Wah ternyata air mineral gelas 6 biji nggak ada apa-apanya, sehingga dengan sadar harus ditinggalkan saja di mobil. 2 kawan Bli Kadeklah yang membawakan air mineral itu sedangkan kami bertiga hanya membawa bekal seadanya. Sebelum berangkat, kami menyempatkan diri untuk berdoa agar diberi kekuatan sampai ke puncak gunung dan kembali dengan selamat.

Jalan setapak menuju Gunung Batukaru langsung ketemu tanjakan yang luar biasa terjalnya. Perut yang kekenyangan akibat makan sate gule kambing serasa di aduk-aduk tak karuan. Kami paksa terus sedemikian rupa menaklukkan jalan yang extreme itu. Tapi memang harus dibayar mahal akibat saya terlalu banyak makan dan kekenyangan jadi muntah-muntah. Padahal perjalanan 1/5-nya untuk sampai di puncak. Jalan satu-satunya adalah berkonsentrasi tinggi menghimpun tenaga sembari berdoa agar diberikan kekuatan. Syukur alhamdulilah, hanya dalam waktu 10 menit melakukan meditasi. Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi benar-benar memberikan tenaga, padahal sempat lemas akibat muntah-muntah.

Dengan mudah kami menapaki jalanan yang kadang berbatu, kadang berupa akar pohon, kadang berupa tanah. Hingga akhirnya dapat mencapai puncak Gunung Batukaru setelah melakukan perjalanan selama 4 jam. Capek dan lelah serasa hilang saat berada di puncak, karena suasana yang asri, damai, dan hening sulit ditemukan di tempat lain. Yang menakjubkan di puncak Gunung Batukaru itu terhampar permadani alam yang indah, terbuat dari rumput hijau. Padahal di sepanjang perjalanan dipenuhi pohon-pohon yang lumayan besar, akan tetapi di puncaknya malah berupa padang rumput dengan luas lebih besar dari lapangan futsal.

Segera kami berganti busana dengan pakaian yang bersih, setelah siap lalu duduk bersila memusatkan pikiran untuk menghadap Gusti Allah untuk mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena atas perkenan-Nyalah bisa mencapai puncak meskipun tadi sempat muntah-muntah. Harapan dan keinginan juga kami sampaikan kepada-Nya serta doa-doa agar senantiasa dibawah lindungan Tuhan YME kami panjatkan.

Setelah berada di puncak sekitar 2,5 jam, akhirnya kami turun dengan terlebih dahulu pamitan agar pulang dengan selamat. Tepat pukul 20.00 wita saya sampai rumah langsung mandi dan diblonyohi minyak cengkeh oleh ibunya anak-anak agar pegel-pegel di kaki dapat segera hilang.

Perjalanan Wisata Spiritual yang Luar Biasa

Denpasar, 15 Oktober 2012

Categories: Spiritual | Tags: , | 8 Komentar

HUT SEMAR SANJIWATA ke-1

SEMAR SANJIWATA (SEmeton penggeMAR toSAN aJI, WAyang dan permaTA) yang merupakan salah satu Paguyuban pelestari Tosan Aji dan Wayang di Bali, telah genap berumur 1 tahun. Perayaan Hari Ulang Tahun ini di selenggarakan di Bokashi Farm, Jl. Waribang Denpasar dengan menggelar Pameran dan Bursa Tosan Aji dan Wayang selama 4 hari mulai hari tanggal 28 September s/d 1 Oktober 2012. Dalam rangkaian acara juga ada Sarasehan, untuk materi Tosan Aji dengan tema “Genetika Keris” disampaikan oleh Raden Prasena (Ketua Paguyuban Ajisaka Malang) dan untuk materi Wayang dengan tema “Semar” disampaikan oleh Tommy Johan Agusta.

Pada kesempatan ini, Dewa Gede Dharma Dwipayana selaku Klian Semeton (Ketua) Semar Sanjiwata juga menganugerahkan Piagam Semar Ngejowantah kepada para pejuang Tosan Aji dan Wayang khususnya pengrajin dan pelestari, antara lain: I Made Dana dan Nyoman Yutdiarta sebagai pengrajin Warangka Bali, Pande Made Punarbawa sebagai seniman ornament emas dan perak, Pande Ketut Margi sebagai Pande Keris, I Ketut Sekar dan I Wayan Arnawa sebagai pengrajin wayang kulit dan kaca. Untuk pelestari adalah Dr. I Gede Semadhi dan Pramono dari Bali, Raden Prasena dari Ajisaka Malang, Slamet Junaedi dari Pataji Nuso Barong Jember, Hartono dari Lombok.

Drh. Dewa Made Kuca Kocala selaku Ketua Panitia HUT Semar Sanjiwata ke-1 menjelaskan bahwa untuk keris yang di pamerkan berasal dari koleksi anggota SS sendiri, sedangkan untuk wayang adalah hasil karya cucu maestro wayang kaca Jro Dalang Diah dari desa Nagasepaha Buleleng. Pebursa yang hadir selain internal Bali, juga datang dari Madura dan Lombok. Sukses selalu dan maju pantang mundur sebagai Pejuang Pelestari karya Budaya.GambarGambarGambar

Categories: Tosan Aji | 8 Komentar

Sosok Kho Ping Hoo

Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo (juga dieja Kho Ping Ho)

adalah penulis cersil (cerita silat) yang sangat populer di Indonesia. Peranakan Tionghoa ini lahir di Sragen, tanggal 17 Agustus1926. Beliau meninggal pada tanggal 22 Juli1994 karena serangan jantung.

Selama 30 tahun ia telah menulis sedikitnya 120 karya. Bila tiap jilid dibaca 25 orang, maka tiap edisinya kira-kira dibaca oleh 1,6 juta orang. Meski menulis cerita-cerita silat Tionghoa, penulis yang produktif ini tidak bisa membaca dan menulis dalam bahasa Mandarin. Ia banyak mendapat inspirasi dari film-film silat Hong Kong dan Taiwan. Kontribusinya bagi sastra Indonesia khususnya Melayu Tionghoa tidak dapat diabaikan.

Karena ia tidak bisa berbahasa Mandarin, banyak fakta historis dan geografis Tiongkok dalam ceritanya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Namun ini bukan suatu halangan bagi pembaca novel Kho Ping Hoo yang memang sebagian besar tidak pernah sampai ke daratan Tiongkok itu.

Selain karya-karya yang termuat dibawah ini, masih terdapat banyak karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang merupakan karangan-karangan lepas (satu judul/kisah tamat) baik berlatar belakang Tionghoa maupun Jawa. Bahkan terdapat serial Pecut Sakti Bajrakirana dan serial Badai Laut Selatan yang berlatarbelakang masa Mataram Islam dan zaman Airlangga.

Beberapa sinetron yang ditayangkan televisi Indonesia juga memiliki kesamaan cerita dengan novel Kho Ping Hoo. Beberapa di antaranya adalah sinetron serial Anglingdarma yang mirip dengan isi cerita Bu Kek Siansu dan sinetron serial Misteri Gunung Merapi yang mirip dengan Alap-alap Laut Kidul (Lindu Aji), dan Bagus Sajiwo. Padahal dalam cerita asalnya, Misteri Gunung Merapi lebih bernuansa daerah Sumatra dengan gunung Sorik Marapi-nya. Tidak tahu apakah ini merupakan kebetulan yang sangat kebetulan sekali ataukah terdapat kenyataan yang lain.

Serial Bu Kek Sian Su

  1. Bu Kek Sian Su
  2. Suling Emas
  3. Cinta Bernoda Darah
  4. Mutiara Hitam
  5. Istana Pulau Es
  6. Pendekar Bongkok
  7. Pendekar Super Sakti
  8. Sepasang Pedang Iblis
  9. Kisah Sepasang Rajawali
  10. Jodoh Rajawali
  11. Suling Emas dan Naga Siluman
  12. Kisah Pendekar Pulau Es
  13. Suling Naga
  14. Kisah si Bangau Putih
  15. Kisah si Bangau Merah
  16. Si Tangan Sakti
  17. Pusaka Pulau Es

Serial Pedang Kayu Harum

  1. Pedang Kayu Harum
  2. Petualang Asmara
  3. Dewi Maut
  4. Pendekar Lembah Naga
  5. Pendekar Sadis
  6. Harta Karun Jenghis Khan
  7. Siluman Gua Tengkorak
  8. Asmara Berdarah
  9. Pendekar Mata Keranjang
  10. Ang Hong Cu
  11. Jodoh Si Mata Keranjang
  12. Pendekar Kelana

Serial Pendekar Sakti

  1. Pendekar Sakti (Bu Pun Su)
  2. Ang I Niocu
  3. Pendekar Bodoh
  4. Pendekar Remaja

Serial Dewi Sungai Kuning

  1. Dewi Sungai Kuning
  2. Kemelut Kerajaan Mancu

Serial Gelang Kemala

  1. Gelang Kemala
  2. Dewi Ular
  3. Rajawali Hitam

Serial Pedang Naga Kemala

  1. Pedang Naga Kemala
  2. Pemberontakan Taipeng

Dalam Pedang Naga Kemala (Giok Liong Kiam) dijumpai bahwa Ilmu-Ilmu yang dikuasai oleh salah seorang tokohnya adalah bersumber dari ilmu-ilmu yang berasal dari Pulau Es, seperti juga yang terdapat dalam serial Pulau Es Bu Kek Siansu.

Serial Iblis Dan Bidadari

  1. Iblis Dan Bidadari
  2. Lembah Selaksa Bunga

Serial Si Pedang Tumpul

  1. Si Pedang Tumpul
  2. Asmara Si Pedang Tumpul

Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis

  1. Sepasang Naga Penakluk Iblis
  2. Bayangan Iblis
  3. Dendam Sembilan Iblis Tua

Serial Sepasang Naga Lembah Iblis

  1. Sepasang Naga Lembah Iblis
  2. Pedang Naga Hitam

Serial Raja Pedang

  1. Raja Pedang
  2. Rajawali Emas
  3. Pendekar Buta
  4. Jaka Lola

Di dalam cerita Raja Pedang sampai Jaka Lola, dijumpai bahwa ilmu kepandaian yang dikuasai oleh Tan Beng San, Kwa Kun Hong, dan juga Yo Wan ternyata bersumber dari ilmu yang diturunkan oleh Pendekar Sakti Bu Pun Su Lu Kwan Cu. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa Serial Raja Pedang adalah terusan dari serial Pendekar Sakti Bu Pun Su Lu Kwan Cu.

Serial Pendekar Tanpa Bayangan (Bu Eng Cu)

  1. Pendekar Tanpa Bayangan (Bu Eng Cu)
  2. Harta Karun Kerajaan Sung

Serial Pendekar Budiman (Hwa I Enghiong)

  1. Pendekar Budiman (Hwa I Enghiong)
  2. Pedang Penakluk Iblis
  3. Tangan Geledek (Pek Lui Eng)

Judul Lepas

  1. Rajawali Lembah Huai
  2. Sendhyakala Ning Majapahit
  3. Tiga Dara Pendekar Siauw Lim

Karakter

Serial Bu Kek Siansu

Bu Kek Siansu adalah seorang yang tingkat kesaktiannya dianggap nyaris sempurna. Ia memiliki kebiasaan menurunkan satu ilmu silat setiap awal musim semi, baik kepada pendekar maupun tokoh sesat. Yang beruntung bertemu dengannya akan menerima pentunjuk.

Liu Lu Sian pendekar sakti puteri ketua partai Beng-Kauw, Liu Gan. Ia adalah istri Jenderal Kam Si Ek dan ibu kandung pendekar suling emas Kam Bu Song. Liu Lu Sian dijuluki Tok-siauw Kwi atau Setan Kecil Beracun. Ia pernah mencuri kitab Sam-po Cin-keng milik ayahnya. Ternyata kitab ini ditemukan kembali oleh Gak Bun Beng dalam kisah Sepasang Pedang Iblis.

Kam Han Ki adalah seorang keturunan keluarga Kam yang beruntung menjadi salah seorang murid manusia setengah dewa Bu Kek Siansu yang paling sakti. Semasa muda, ia terlibat cinta segi-tiga dengan sumoi-sumoinya (Maya dan Khu Siauw Bwee). Di masa tuanya ia bergelar Koai Lojin.

Maya adalah sumoi Kam Han Ki. Ia menjadi murid tak langsung dari Bu Kek Siansu. Awalnya ia muncul dalam cerita Kisah Pulau Es. Karena terlibat cinta segi-tiga dengan suhengnya (yang juga dicintai oleh Khu Siauw Bwee, hidupnya berakhir tragis dengan pertarungan hingga mati dengan Khu Siauw Bwee.

Khu Siauw Bwee adalah sumoi Kam Han Ki dan merupakan murid tidak langsung dari Bu Kek Siansu melali bimbingan suhengnya. Siauw Bwee banyak mengalami kepahitan semasa hidupnya, semenjak ayahnya yang merupakan murid kesayangan dari menteri Kam Liong, difitnah dan dibunuh oleh Suma Kiat. Siauw Bwee besaing cinta dengan Panglima Mancu Maya yang juga merupakan suci-nya untuk mendapatkan hari Kam Han Ki, yang berakhir tragis setelah pada pertarungan akhir dengan Maya, membuat kakinya buntung. Dara cantik inilah yang sesungguhnya mendapatkan cinta seutuhnya dari Kam Han Ki. Di masa tua menjadi subo Suma Han.

Kwee Seng adalah guru Kam Bu Song. Ia adalah sastrawan gagal berjuluk Kim mo Eng (Pendekar Iblis Emas) yang pernah dijodohkan dengan Liu Lu Sian oleh Beng-kauw Liu Gan. Namun pada suatu peristiwa, Kwee Seng terjatuh ke jurang lalu tiba di suatu tempat bernama Neraka Bumi. Di sana, ia memperdalam ilmu silat didampingi “istrinya” yaitu Nenek Neraka Bumi (Putri Kerajaan Tang yang bernama Khu Gin Lin). Setelah berhasil keluar dari neraka bumi ia menyebut dirinya sendiri sebagai Kim mo Taisu (Guru Besar Iblis Emas).

Kam Bu Song (Pendekar Suling Emas I) merupakan salah satu murid Bu Kek Siansu yang berdarah bangsawan. Merupakan leluhur dari pendekar suling emas Kam Hong. Kam Bu Song adalah anak dari Liu Lu Sian dan Jendral Kam Si Ek.

Dia adalah saudari angkat dari Kam Bun Sin berasal dari negeri Khitan. Nama aslinya adalah Lin Lin (atau Kam Lin-lin saat masih menjadi adik angkat Kam Bun Sin), tapi pada akhirnya menjadi istri si Suling Emas Kam Bu Song.

Kam Hong (Pendekar Suling Emas II) merupakan seorang sasterawan keturunan pendekar Suling Emas Kam Bu Song. Secara kebetulan ia menemukan ilmu suling emas dari pembuat suling emas yang asli. Ilmu silatnya yang terkenal diantaranya Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas).

Kam Bi Eng isteri dari Suma Ceng Liong dan merupakan anak dari Kam Hong.

Kam Kwi Lan, Lebih dikenal dengan gelar si Mutiara Hitam adalah puteri dari Kam Bu Song dan puteri Yalina (Lin Lin) dari Khitan dan adik tiri dari pangeran Kam Liong. Ia juga murid dari bibinya, Kam Sian Eng.

Kam Liong Adalah seorang bangsawan dan putera hasil percintaan antara Kam Bu Song dan Suma Ceng. Dia mati terbunuh bersama muridnya (ayah dr Khu Siauw Bwee, subo-nya Suma Han) saat melakukan pembelaan terhadap salah seorang keponakannya Kam Han Ki (anak dr Kam Bu Sin), Kam Han Ki ini adalah murid tunggal Bu Kek Siansu yang setelah tua-nya berjuluk Koai Lojin.

Kam Sian Eng adalah adik tiri Kam Bu Song si Suling Emas. Pendekar wanita ini menjadi setengah gila setelah diperkosa oleh Suma Boan. Dari hasil perkosaan tersebut melahirkan anak bernama Suma Kiat.

Suma Kong, tokoh Pangeran Suma Kong muncul pertama kali di episode Suling Emas dalam serial Bu Kek Siansu. Pangeran ini adalah kepala ujian negara bagi para calon-calon ahli sastra yang akan mengikuti ujian menjadi sastrawan. Pangeran ini memiliki seorang puteri bernama Suma Ceng dan seorang putera bernama Suma Boan.

Suma Boan adalah anak dari pangeran Suma Kong. Pemuda bangsawan ini selain suka bergaul dengan rakyat, juga ia terkenal seorang pemuda yang pandai ilmu silat. Kesukaannya memang mempelajari ilmu silat dan entah berapa banyaknya guru silat yang pernah mengajarnya dan juga pernah ia robohkan. Setiap ia mendengar ada seorang guru silat baru, ia tentu mendatanginya dan mengajaknya pibu. Wataknya peramah dan pandai bergaul, akan tetapi sayang sekali, pemuda bangsawan ini pun seorang mata keranjang yang suka mengganggu wanita cantik mengandalkan kedudukan dan kepandaiannya. Kepandaiannya melonjak cepat sekali sejak menemukan seorang guru yang benar-benar hebat, yaitu Pouw-kai-ong sang Raja Pengemis sehingga mendapat julukan Lui-kong-sian (Dewa Geledek).

Suma Ceng adalah puteri dari Suma Kong dan adik dari Suma Boan. Ia menjadi kekasih dari Kam Bu Song sebelum dikawinkan dengan pangeran Kiang. Dari hasil perncintaan dengan Kam Bu Song, Suma Ceng melahirkan seorang putera yang diberi nama Kam Liong .

Suma Kiat Suma Kiat adalah seorang jendral besar kerajaan Sung yang merupakan anak tunggal dari Kam Sian Eng dengan Suma Boan. Sifatnya kejam dan hatinya selalu dipenuhi oleh dendam dan iri hati kepada keluarga keturunan langsung dari Suling Emas, walaupun pada kenyataannya dia banyak sekali mendapatkan budi baik dari keluarga Kam mengingat dia sesungguhnya masih memiliki darah keturunan keluarga Kam dari pihak Ibu. Iri hati dan dendam yang membuta ini mengakibatkan Suma Kiat berhasil membunuh Kam Liong dan memfitnahnya sebagai pemberontak. Pada akhirnya dia tidak mengakui Suma Hoat sebagai anaknya dan mendapatkan bahwa muridnya sendiri telah berzinah dengan selir kesayangannya, dan kemudian mati oleh pukulan batin yang amat hebat. Menuai hasil dari perbuatan buruknya sendiri semasa muda.

Suma Hoat atau lebih dikenal sebagai Jai-Hwa-Sian, adalah salah seorang tokoh sakti yang sering terombang-ambing antara berlaku sebagai pendekar atau sebagai penggoda wanita. Hal ini dikarenakan ketidakkuatan batinnya saat dikhianati sorang wanita.

Suma Han (Pendekar Super Sakti) adalah seorang keturunan keluarga Suma. Berbeda dengan leluhurnya yang jahat, Suma Han menempuh garis hidup yang berbeda. Dia terkenal dengan tenaga lweekangnya Swat-im Sinkang dan Hwi-Yang Sin-kang (yang kemudian menjadi semacam ‘trade mark’ Pulau Es), selain ilmu-ilmu silat warisan Bu Kek Siansu. Bergelar juga Pendekar Siluman karena kemampuan sihir yang ia dapatkan tidak sengaja semasa kecil. Suma Han pada akhirnya berbuntung kaki, tetapi beristeri dua, yaitu Nirahai dan Lulu. Dari Nirahai dia mendapatkan sepasang putera puteri, yakni Milana dan Suma Kian Bu, dan dari Lulu dia mendapat putera Suma Kian Lee. Ilmu-ilmu silatnya diantaranya Soan-hong-lui-kun yang diwarisinya dari Khu Siauw Bwee. Dia juga menjadi pewaris ilmu Siang- Mo Kiam-Sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) dari pasangan Can Ji Kun-Ok Yan Hwa yang dijuluki Sepasang Pedang Iblis.

Nirahai adalah keturunan kaisar mancu dari salah seorang selirnya. Memiliki banyak ilmu-ilmu silat tinggi, bahkan ilmu warisan dari Suling Emas Kam Bu Song. Dia juga sempat menjadi murid dari Maya,tokoh sakti murid Bu kek Siansu. Percintaannya dengan Suma Han kandas karena perbedaan prinsip, kendati dia sudah mengandung dan melahirkan seorang puteri yang diberi nama Milana. Dia sempat menjadi pangcu Thian-liong-pang dan menculik para tokoh kangouw untuk dipelajari intisari ilmunya. Belakangan dia hidup bahagia dengan Suma Han dan madunya Lulu di Pulau Es, dan melahirkan Suma Kian Bu. Dia tewas dalam penyerbuan yang dilakukan para tokoh hitam di Pulau Es.

Lulu adalah adik angkat sekaligus isteri dari Suma Han. Setelah bercerai dari suaminya yang pertama (Wan Sin Kiat), ia menikah dengan pendekar sakti Suma Han. Dari suami yang pertama ia memiliki anak Wan Keng In yang menjadi ayah dari Wan Ceng dan Wan Tek Hoat.

Milana (atau Puteri Suma Milana) adalah puteri pertama dari pasangan Suma Han dan puteri Nirahai. dan belakangan menjadi istri dari Pendekar Sakti Gak Bun Beng

Suma Kian Bu (Pendekar Siluman Kecil) adalah putera Suma Han dan Nirahai. Ia muncul di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali, Jodoh Rajawali dan Suling Emas dan Naga Siluman. Riwayat hidup terakhirnya tidak diceritakan dengan jelas. Ia memiliki seorang putera yang bernama Suma Ceng Liong.

Suma Kian Lee adalah putera Suma Han dan Lulu dan merupakan salah seorang dari “Sepasang Rajawali”. Memiliki 2 anak: Suma Hui dan Suma Ciang Bun.

Suma Hui adalah puteri dari Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li.

Suma Ciang Bun adalah adik dari Suma Hui. Ia digambarkan sebagai pendekar yang mengalami kelainan seksual, yang lebih menyukai pria ketimbang wanita. Sampai suatu saat ia berjumpa dengan seorang ‘pria’ yang disukainya, yang ternyata adalah seorang dara remaja yang menyamar. Dara itu adalah Gangga Dewi. Kelak pasangan ini menikah kendati keduanya sudah berusia lanjut.

Suma Ceng Liong adalah putera tunggal pasangan Suma Kian Bu dengan Teng Siang In, yang dilahirkan ketika pasangan ini sudah bertahun-tahun menikah. Awalnya dia dan dua sepupunya dididik kakek dan kedua nenek di Pulau Es. Setelah kakek dan kedua neneknya tewas, dia diculik dan akhirnya dijadikan murid tunggal datuk sesat Hek-i-Mo-Ong. Suma Ceng Liong akhirnya mewarisi ilmu-ilmu Pulau Es dari ayahnya (semasa kanak-kanak dia pernah menerima operan sinkang dari kakeknya Suma Han). Suma Ceng Liong menikah dengan Kam Bi Eng yang merupakan anak dari Kam Hong, Pendekar Suling Mas II, dan mendapatkan seorang puteri, Suma Lian. Suma Lian kemudian menikah dengan Gu Hong Beng, yaitu murid dari Suma Ciang Bun,adik Suma Hui sepupu Suma Ceng Liong.

Wan Keng In anak dari Lulu sebelum menikah dengan Suma Han.Wan Keng In adalah putra Wan Sin Kiat. Dia murid Cui Beng Koai Ong, salah satu datuk Pulau neraka.

Wan Tek Hoat (Si Jari Maut). Mula kisahnya muncul di Kisah Sepasang Rajawali. Ia anak tidak sah dari Wan Keng In (putera Lulu) dan Ang Siok Bi (puteri bekas ketua Bu-tong Pai, Ang Thian Pa atau dipanggil juga Ang Lojin). Di masa tuanya ia menjadi hwesio bergelar Tiong Khi Hwesio. Ilmunya banyak, diantaranya gabungan Pat-sian-sin-kun dan Pat-mo-sin-kun yang dipelajarinya dari Sa-cu Lo-mo (mantan anak buah Nirahai), juga mendapatkan ilmu dari dua datuk pulau Neraka, Cui-beng Koai-ong dan sutenya, Bu-tek Siauw-jin. Senjatanya yang terkenal adalah Cui-beng Kiam (Pedang Pencabut Nyawa).

Wan Ceng (Pendekar Selaksa Racun) adalah puteri tidak sah dari Wan Keng In dengan Lu Kim Bwee. Menjadi murid Si Setan Selaksa Racun Ban-tok Mo-li. Ia merupakan isteri dari Kao Kok Cu dan ibu dari Kao Sin Liong.

Sim Houw (Pendekar Suling Naga)adalah anak dari Pendekar Pedang Naga Siluman Sim Hong Bu dan murid dari Pendekar Suling Emas Kam Hong. Dia mewarisi ilmu gabungan dari Kim Siaw Kiam sut dan Koai Liong Kiamsut. Dia juga mewarisi suling yang berbentuk naga terbuat dari kayu yang kuat dan karena itu ia dijuluki Pendekar Suling Naga

Sim Hong Bu (Pendekar Naga Siluman) adalah keturunan keluarga pemburu yang beruntung mewarisi ilmu pedang naga siluman dari manusia yeti Ouwyang Kwan (yang juga masih keluarga Cu dari Lembah Naga Siluman). Senjatanya yang ampuh adalah Koai-liong-pokiam (Pedang Naga Siluman) dengan ilmu silatnya Koai-liong Kiam-sut.

Gak Liat salah seorang datuk sesat, merupakan ayah tak sah dari Gak Bun Beng.

Gak Bun Beng adalah menantu dari Suma Han dari puterinya Milana. Ia telah banyak mewarisi ilmu silat yang tinggi sekali, selain ketika masih kanak-kanak dia menjadi murid seorang tokoh sakti Siauw-lim-pai, ketika menjelang dewasa dia secara kebetulan mewarisi ilmu kesaktian peninggalan seorang manusia dewa yang bernama Koai Lojin (Kam Han Ki). Bukan itu saja, bahkan pernah dia menerima warisan ilmu dari kakek sakti Bu-tek Siauw-jin datuk Pulau Neraka, dan pernah pula menerima pendidikan sin-kang dari Pendekar Super Sakti! Di waktu dia masih muda saja dia telah memiliki kesaktian-kesaktian luar biasa itu, di antaranya adalah ilmu Lo-thian Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit), Tenaga Sakti Inti Bumi dari Bu-tek Siauw-jin, gabungan tenaga sin-kang Swat-im-sin-kang dan Hui-yang-sin-kang dari Pendekar Super Sakti, samping ilmu silat-ilmu silat lain yang kesemuanya bertingkat tinggi!

Kao Kok Cu (Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir) merupakan putera Jenderal Kao Liang yang hilang terdampar di padang pasir Go-bi, tetapi beruntung menjadi murid terkasih dari Dewa Bongkok Bu-beng Lojin. Muncul pertama kali dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali. Ilmu simpanannya adalah Sin-liong-hok-te (Naga Sakti Mendekam di Atas Tanah) yang dahsyat sekali, dan baru dapat ia mainkan secara sempurna setelah ia kehilangan sebelah tangannya.

Kao Cin Liong. Adalah putra dari Pedekar Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu yang menjadi Panglima Perang Mancu tetapi kemudian mengundurkan diri. Menikah dengan anak Suma Kian Lee yang bernama Suma Hui. Berputeri satu, Kao Hong Li.

Tan Sin Hong bergelar Pendekar Bangau Putih, bernasib mujur menjadi murid dari 3 orang pendekar sakti: Si Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu, si Tangan Maut kakek Tiong Khi Hwesio(Wan Tek Hoat) dan pendekar Selaksa Racun nenek Wan Ceng yang menciptakan ilmu gabungan mereka yaitu ilmu silat sakti bangau putih (Pek-ho Sin-kun). Pada akhirnya, Tan Sin Hong menikah dengan putri tunggal Kao Cin Liong yang bernama Kao Hong Li setelah sebelumnya menceraikan istri pertamanya.

Yo Han bergelar Sin-ciang Tai-hiap (Pendekar Tangan Sakti) merupakan murid dari Tan Sin Hong. Ceritanya muncul pertama kali di Si Bangau Merah.

Hek-i-Mo-Ong adalah seorang datuk sesat musuh keluarga Pulau Es. Akan tetapi ia mengangkat murid salah seorang keturunan Pulau Es, yaitu Suma Ceng Liong. Ilmu yang dimilikinya adalah menyemburkan hawa api lewat mulutnya. Ilmu ini dilatihnya dengan berdiri di atas kepala secara terbalik di atas tumpukan-tumpukan tengkorak manusia.

Hek-tiauw Lo-mo adalah iblis jahat yang pernah menguasai pulau Neraka. Akan tetapi, puteri angkatnya, Kim Hwee Li, malah menikah dengan Suma Kian Lee.

Sam-Kwi atau Tiga Iblis yang terdiri dari Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam), Im-kan Kwi (Iblis Akhirat) dan Iblis Mayat Hidup. Ketiganya adalah datuk-datuk sesat yang pernah bertarung dengan Pendekar Super Sakti Suma Han dan kalah. Salah satu ilmu andalan dari Iblis Akhirat adalah ilmu golok terbang yang aneh, dapat menyerang musuh akan tetapi kemudian kembali ke pelemparnya. Lain pula Raja Iblis Hitam, ia memiliki ilmu yang dapat mengulurkan anggota tubuhnya untuk menyerang. Sedangkan Iblis Mayat hidup memiliki sabetan jari-jari yang tidak kalah tajamnya dengan golok ataupun pedang.

Serial Pedang Kayu Harum

Cia Keng Hong merupakan murid tunggal dari tokoh yang berjuluk Sin Jiu Kiam-ong. Pedang Kayu Harum (Siang-Bhok-Kiam) adalah warisan dari gurunya. Secara ajaib memiliki ilmu Thi-Khi-i-Beng yang dapat menyerap sin-kang orang yang disentuhnya. Selain itu ilmu andalannya adalah Thai-kek Sin Kun. Kelak dia mendirikan Cin-ling-pai, perguruan silat yang namanya sejajar dengan partai terkenal lainnya. Menikah dengan Sie Biauw Eng dan mempunyai 2 anak, Cia Keng Hong dan Cia Bun Houw. Meninggal di usia senja karena terluka dalam akibat keroyokan nenek sesat Hek-hiat Mo-li dan muridnya Kim Hong Liu-nio, namun sebelumnya sempat mewariskan seluruh kesaktiannya kepada cucunya sendiri, Cia Sin Liong. Merupakan tokoh sentral dari serial Pedang Kayu Harum. (SERIAL: Pedang Kayu Harum, Petualang Asmara, Dewi Maut, Pendekar Lembah Naga)

Sie Cun Hong lebih terkenal dengan julukan Sin-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Sakti), tokoh pertama pemilik Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Harum) sekaligus guru tunggal Cia Keng Hong. Sangat sakti namun berwatak aneh, berbudi, ksatria, tapi tidak tabu melakukan hal-hal di luar norma. Banyak mempunyai musuh di semua golongan, baik hitam maupun putih. Menebar permusuhan dengan banyak wanita karena luar biasa mata keranjang. Mati dengan meninggalkan teka-teki tempat penyimpanan harta warisannya yang akhirnya berhasil dipecahkan oleh Cia Keng Hong dan membuatnya menjadi orang terkuat di Kang-ouw. (SERIAL: Pedang Kayu Harum)

Sie Biauw Eng merupakan anak di luar nikah dari Raja Pedang Tangan Sakti Sie Cun Hong (guru Cia Keng Hong) dan Lam-hai Sin-ni. Mempunyai 2 orang anak dari pernikahannya dengan Cia Keng Hong, yakni Cia Giok Keng dan Cia Bun Houw. Sebelum menjadi istri Cia Keng Hong, dia terkenal dengan julukan Song-bun Siu-li (karena selalu berwajah dingin dan memakai pakaian putih) dan pandai memainkan sabuk sutra sebagai senjata utamanya. Dia dan Tan Hun Bwee sempat menjadi murid dari nenek sakti sesat Go-bi Thai-houw Oh Hian Wi, meski kemudian berbalik memusuhinya. (SERIAL: Pedang Kayu Harum, Petualang Asmara, Dewi Maut)

Gui Yan Cu adalah murid dari Tung Sun Nio (istri sah Sie Cun Hong), istri Yap Cong San dan ibu dari Yap Kun Liong dan Yap In Hong. Secara tidak langsung merupakan sumoi dari Cia Keng Hong. Jenaka, berfikiran bebas, namun sangat setia. Tinggal di Leng-kok setelah menikah dan menjadi sin-she terkenal. Meninggal terbunuh dalam pelariannya saat kediaman Theng Kiu (mantan pengawal kaisar, pembantu Panglima The Ho) diserbu oleh 5 Datuk Sesat (di serial Petualang Asmara). (SERIAL: Pedang Kayu Harum, Petualang Asmara)

Yap Cong San merupakan murid dari Tiong Pek Hosiang (ketua Siauw-lim-pai), menikah dengan Gui Yan Cu serta ayah dari Yap Kun Liong dan Yap In Hong. Rendah hati, sederhana, dan sangat bersahaja. Terkenal karena senjatanya, yakni sepasang mouw-pit hitam putih dan senjata rahasia berupa koin tembaga. Bahu membahu menjadi pembela kebenaran dengan istri dan 2 sahabatnya, Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng. Dia dan istrinya meninggal terbunuh oleh 5 Datuk sesat. (SERIAL: Pedang Kayu Harum, Petualang Asmara)

Bhe Cui Im mempunyai julukan Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Racun Berpedang Merah), merupakan suci dari Sie Biauw Eng semasa masih menjadi murid Lam-hai Sin-ni, dan secara tidak langsung menjadi sumoi Cia Keng Hong setelah bersama-sama menemukan harta warisan Raja Pedang Sie Cun Hong yang membuatnya menjadi penjahat dengan kesaktian luar biasa sehingga dijuluki Ang-kiam Bu-tek (Pedang Merah Tanpa Tanding). Sangat cabul, culas, serta sadis, meski juga sangat cantik. Sepanjang hidupnya dicurahkan untuk menghancurkan kehidupan Cia Keng Hong yang dianggap menolak cintanya. Sempat menjadi murid Go-bi Thai-houw (Ratu Go-bi) Oh Hian Wi sebelum akhirnya tewas di tangan Cia Keng Hong. (SERIAL: Pedang Kayu Harum)

Kiang Tojin merupakan murid pertama Thian Seng Cinjin, ketua Kun-lun-pai. Gagah, jujur, budiman, dan penuh welas asih. Menjadi ketua baru Kun-lun-pai meski sebelumnya sempat dikudeta oleh sutenya, Sian Ti Tojin. Kiang Tojin adalah orang yang menemukan dan membesarkan Cia Keng Hong sebelum diambil murid oleh Raja Pedang Sie Cun Hong. Cia Keng Hong menghormati tokoh ini seperti orang tuanya sendiri, tidak heran jika dia mau menyerahkan kitab warisan pendiri Kun-lun-pai yang berisikan ilmu yang diidamkan pendekar seluruh kang-ouw, Thai-kek Sin-kun, kepadanya.

Ouw-yang Tiong merupakan tokoh tua sakti mandraguna berjuluk Tiong Pek Hosiang, ketua lama Siauw-lim-pai sebelum akhirnya mengundurkan diri (dan digantikan oleh murid tertuanya, Thian Kek Hwesio) demi nama baik Siauw-lim-pai setelah skandal cinta segitiga di masa mudanya dengan Tung Sun Nio dan Raja Pedang Sie Cun Hong dibongkar oleh Go-bi Thai-houw Oh Hian Wi. Suhu dari Yap Cong San serta sebagian besar pemuka Siauw-lim-pai. Meninggal dengan damai di usia senja setelah mewariskan ilmu-ilmu sakti ciptaannya kepada Yap Kun Liong, putra Yap Cong San.

Tung Sun Nio adalah istri Raja Pedang Sie Cun Hong di masa mudanya, berantakan karena terlibat cinta segitiga dengan Tiong Pek Hosiang. Penghuni pertama Cin-ling-san (cikal bakal Cin-ling-pai) dan subo dari Gui Yan Cu. Meninggal saat pernikahan Cia Keng Hong – Sie Biauw Eng dan Yap Cong San – Gui Yan Cu setelah bertarung mati-matian melawan nenek sakti Go-bi Thai-houw Oh Hian Wi, mantan pembantunya.

Bun Hoat Tosu atau Bu Beng Tosu, merupakan ketua lama Hoa-san-pai. Suhu pertama dari Yap Kun Liong meski tidak pernah mau diakui sebagai guru. Sangat bijaksana dan berjiwa petualang. Rasa penasarannyalah yang membuat dia mampu menciptakan ilmu yang sanggup menetralisir kehebatan ilmu yang paling ditakuti di dunia kang-ouw, Thi-Khi-i-Beng. Di usia yang sangat tua, dia sempat mewariskan ilmu-ilmunya kepada Yap Mei Lan, sebelum akhirnya meninggal dengan damai saat bertanding catur melawan Kok Beng Lama. (SERIAL: Pedang Kayu Harum, Petualang Asmara, Dewi Maut)

Thian-te Sam-lo-mo (Tiga Iblis Tua Langit Bumi) merupakan 3 kakek sesat sakti yang sezaman dengan Raja Pedang Sie Cun Hong. Yang tertua berjuluk Kai-ong Lo-mo (Iblis Tua Raja Pengemis), disusul Bun-ong Lo-mo (Iblis Tua Raja Sastra), dan yang termuda bernama Thian-to Lo-mo. Sempat mundur dari kang-ouw setelah kalah bertarung melawan Raja Pedang Sie Cun Hong, dan kembali lagi sepeninggalnya. Sangat terobsesi mengalahkan Raja Pedang hingga bersusah payah menantang muridnya, Cia Keng Hong, meski akhirnya kalah dan terbunuh oleh Thi-Khi-i-Beng. (SERIAL: Pedang Kayu Harum)

Yap Kun Liong adalah keponakan murid dari Cia Keng Hong, tetapi mewarisi ilmu Thi-Khi-i-Beng darinya. Sangat beruntung karena menjadi murid dari tokoh sakti mantan ketua Hoa-san-pai, Bun Hwat Tosu (mendapat ilmu yang bisa menangkal Thi-Khi-i-Beng) dan mantan ketua Siaw-lim-pai, Tiang Pek Hosiang. Terakhir ia malah secara kebetulan menemukan kitab ilmu silat sakti Keng Lun Tai Pun peninggalan raja besar Bun Ong di sebuah pulau. Berjiwa bebas dan digilai banyak wanita. Ciri khasnya adalah kepalanya yang gundul plontos sejak kecil akibat terkena jarum racun Ouwyang Bouw, meski akhirnya tumbuh kembali setelah memakan telur ular hitam. Mempunyai seorang putri (Yap Mei Lan) hasil hubungan semalamnya dengan Lim Hwi Sian yang mencintainya. Menikah dengan Pek Hong Ing, lalu menikah lagi dengan Cia Giok Keng di usia senja setelah meninggalnya Pek Hong Ing. Merupakan tokoh sentral dalam serial Petualang Asmara. (SERIAL: Pedang Kayu Harum, Petualang Asmara, Dewi Maut, Pendekar Lembah Naga, Pendekar Sadis)

Cia Giok Keng adalah anak dari pendekar besar Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng. Keras hati dan lincah. Menguasai hampir seluruh kepandaian orang tuanya (kecuali Thi-Khi-i-Beng yang hanya diwarisi Yap Kun Liong). Sempat terbawa perasaan hingga hampir menikah dengan pemuda sesat Liong Bu Kong hingga akhirnya diperistri oleh Lie Kong Tek. Mempunyai 2 orang anak: Lie Seng dan Lie Ciauw Si. Perselisihannya dengan Yap In Hong menyebabkan terbunuhnya Pek Hong Ing dan Lie Kong Tek bunuh diri. Namun di usia senjanya dia malah berjodoh dengan Yap Kun Liong. (SERIAL: Pedang Kayu Harum, Petualang Asmara, Dewi Maut, Pendekar Lembah Naga, Pendekar Sadis)

Pek Hong Ing merupakan putri dari ketua Lama Jubah Merah, Kok Beng Lama, hasil hubungan gelapnya dengan Pek Cui Sian. Murid Go-bi Sin-kouw dan sumoi dari Lauw Kim In yang sangat melindunginya, sedikit banyak juga memperoleh ajaran dari ayahnya sendiri. Mengalami banyak petualangan semasa mudanya bersama Yap Kun Liong yang akhirnya menikahinya. Sangat cantik, lembut dan bersahaja. Sempat dikira terbunuh oleh Cia Giok Keng sebelum akhirnya diketahui bahwa yang membunuhnya adalah Yo Bi Kiok. (SERIAL: Petualang Asmara, Dewi Maut)

Lie Kong Tek merupakan murid dari Hong Khi Hoatsu. Meski tidak terlalu pandai ilmu silat, namun sangat jujur, tenang, dan bermental baja, hal yang membuatnya dicintai oleh Cia Giok Keng, istrinya. Mempunyai 2 orang anak: Lie Seng dan Lie Ciauw Si. Meninggal bunuh diri demi menebus kesalahan istrinya. (SERIAL: Petualang Asmara, Dewi Maut)

The Hoo adalah seorang panglima agung, laksamana dari kerajaan Beng. Panglima ini sangat terkenal hingga manca negara, berwibawa, jujur dan bijaksana, bahkan tidak ada yang tahu pasti seberapa tinggi kesaktiannya mengingat orang-orang yang sedikit mendapat ilmu-ilmu tinggalannya saja sudah sulit untuk ditandingi. Meski kemunculannya tidak terlalu menonjol, namun sepak terjang orang-orang yang punya hubungan dengannya (murid, pembantu, maupun orang yang mendapat warisan ilmunya) terus bergaung di sepanjang serial ini. (SERIAL: Pedang Kayu Harum, Petualang Asmara)

Kok Beng Lama merupakan tokoh sakti pendeta lama dari Tibet, perawakannya tinggi besar dan perangainya menjurus tegas dan kasar, meski cenderung menjadi pembela kebenaran. Sempat dihukum karena mencintai wanita hukuman Pek Cui Sian, hingga mempunyai seorang anak bernama Pek Hong Ing. Mempunyai sakit jiwa setelah tahu istrinya meninggal dan anaknya hilang dalam pelarian. Selama hidupnya mempunyai 3 murid resmi: Cia Bun Houw, Lie Seng, dan Yap Mei Lan, meski secara tidak sengaja sempat menurunkan ilmu andalannya kepada Yap In Hong dan Cia Sin Liong. Di akhir hayatnya, saat penyakit gilanya kambuh, dia menantang Cia Keng Hong adu jiwa, pertarungan yang menyebabkan seluruh sinkangnya berpindah secara ajaib kepada Cia Sin Liong akibat Thi-Khi-i-Beng, kejadian yang akhirnya merenggut nyawanya. (SERIAL: Petualang Asmara, Dewi Maut, Pendekar Lembah Naga)

Yap In Hong adalah adik dari Yap Kun Liong, lahir sejenak sebelum kematian kedua orangtuanya. Dibesarkan oleh wanita sakti sesat Yo Bi Kiok yang sangat membenci laki-laki karena cintanya ditolak oleh Yap Kun Liong, akibatnya, selain sangat sakti karena mewarisi ilmu tinggalan bokor emas panglima The Hoo, dia juga mewarisi sikap dingin gurunya. Bahkan secara tidak sengaja dia mewarisi Thian-te Sin-ciang dari Kok Beng Lama, yang juga guru dari orang yang dicintai dan dinikahinya kelak, Cia Bun Houw. Menikah agak telat, dan mempunyai seorang putra, Cia Kong Liang. Merupakan tokoh sentral dari serial Dewi Maut. (SERIAL: Petualang Asmara, Dewi Maut, Pendekar Lembah Naga, Pendekar Sadis)

Cia Bun Houw merupakan tokoh sakti dari Cin-ling-pai, putra kedua dari Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng. Selain menguasai seluruh kepandaian kedua orangtuanya (kecuali Thi-Khi-i-Beng), dia juga menjadi murid pendeta sakti asal Tibet Kok Beng Lama. Sifatnya lurus, sedikit konyol, namun teguh pendirian. Saling mencintai dengan Yap In Hong, meski menikahnya agak telat. Selain berputra Cia Kong Liang, dia juga mempunyai seorang anak lagi bernama Cia Sin Liong (Pendekar Lembah Naga) hasil hubungan semalamnya dengan Liong Si Kwi akibat racun perangsang. Di usia senja, dia meneruskan kiprah ayahnya sebagai pemimpin Cin Ling Pai. (SERIAL: Petualang Asmara, Dewi Maut, Pendekar Lembah Naga, Pendekar Sadis)

Hek-hiat Mo-li adalah salah satu tokoh sakti sesat. Pasangannya berjuluk Pek-hiat Mo-ko. Mereka berdua merupakan guru dari raja Mongol Sabuthai, suami permaisuri Khamila, ayah angkat dari Pangeran Ceng Han Houw. Sangat mendendam kepada mendiang panglima The Hoo, hingga berniat membalasnya kepada semua orang yang berhubungan dengannya. Dalam pertempuran di lembah naga, dia kalah secara mengenaskan di tangan Yap In Hong dan pasangannya tewas oleh Cia Bun Houw. Dengan muridnya dia mengeroyok Cia Keng Hong hingga terluka dalam dan meninggal. Namun dalam usahanya membantu Ceng Han Houw memberontak, nenek ini tewas di tangan pendekar lembah naga Cia Sin Liong. (SERIAL: Dewi Maut, Pendekar Lembah Naga)

Cia Sin Liong atau Pendekar Lembah Naga adalah anak di luar nikah dari pendekar sakti Cia Bun Houw, ibunya bernama Liong Si Kwi yang berjuluk Ang-yan-cu (Pendekar Walet Merah). Sin Liong yang secara tak sengaja bertemu dengan kakeknya Cia Keng Hong saat sedang bertanding maut dengan Kok Beng Lama. Dalam kesempatan yang kritis ini Sin Liong memperoleh secara tak sengaja ilmu Thi-Khi-i-Beng dan juga tenaga dalam dari kedua kakek sakti tersebut. Selain itu ia juga memperoleh ilmu-ilmu dari kitab warisan Bu-beng Hud-couw yang diberikan oleh Ouwyang Bu Sek. Ia mempunyai seorang kakak angkat yang berambisi menjadi tokoh persilatan nomor satu, yaitu Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw. Menikah dengan teman masa kecilnya Bhe Bi Cu dan berputra Cia Han Tiong. Karena jasanya, kaisar menganugerahkan Lembah Naga sebagai kediamannya. Merupakan tokoh sentral dari serial Pendekar Lembah Naga. (SERIAL: Pendekar Lembah Naga, Pendekar Sadis)

Ceng Han Houw adalah pangeran dari 2 kerajaan sekaligus, ayahnya adalah Kaisar Ceng Tung dari kerajaan Beng, sedangkan ibunya adalah Permaisuri Khamila dari kerajaan Mongol. Di samping lingkungan istana, gurunya yang merupakan salah seorang datuk sesat Hek-hiat Mo-li membentuknya menjadi pemuda yang sombong, licik, namun luar biasa pintar. Persaingannya dengan adik angkatnya, Cia Sin Liong, mendorong dia ingin mendapatkan ilmu dari sumber yang sama, Bu-beng Hud-couw, dan dia berhasil. Kesaktiannya membuat dia berani menantang seluruh jago-jago kang-ouw dan berkeinginan menjadi pendekar nomor 1 sejagad, bahkan sampai merencanakan pemberontakan atas kerajaan Beng, meski akhirnya seluruh keinginannya musnah setelah kalah mengenaskan di tangan Cia Sin Liong. Kekalahan yang menyebabkan dia sadar dan akhirnya memilih hidup tenang menyepi dengan istrinya yang amat setia, Lie Ciauw Si, hingga berputra Ceng Thian Sin (Pendekar Sadis). Akhir hayatnya tragis, dikeroyok oleh pasukan dari 2 kerajaan sekaligus akibat tuduhan pemberontakan, meski begitu, keinginannya untuk sehidup semati dengan istrinya akhirnya tercapai. (SERIAL: Pendekar Lembah Naga, Pendekar Sadis)

Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis adalah putra dari Ceng Han Houw, pangeran sakti yang pernah ingin menjadi pendekar nomor satu di kolong langit, dan Lie Ciaw Sie putri dari Cia Giok Keng. Thian Sin mewarisi ilmu kesaktian dari ayahnya, salah satunya adalah Hok Te Sin Kun. Selain itu Thian Sin juga mewarisi Thi-Ki-I-Beng dari Cia Sin Liong. Bahkan atas bimbingan seorang pertapa himalaya, dia juga menguasai hoat-sut (sihir) yang sukar dicari tandingannya. Di masa mudanya, Thian Sin terkenal sadis terhadap para penjahat. Thian Sin saling mencinta dan hidup bersama dengan Toan Kim Hong yang berjuluk Lam Sin (Malaikat Selatan) dan mempunyai putri Ceng Sui Cin. Mereka tinggal di pulau Teratai Merah. Merupakan tokoh sentral dari 3 serial sekaligus: Pendekar Sadis, Harta Karun Jenghis Khan, dan Siluman Guha Tengkorak. (SERIAL: Pendekar Sadis, Harta Karun Jenghis Khan, Siluman Guha Tengkorak, Asmara Berdarah)

Cia Han Tiong merupakan putra tunggal dari Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong, ibunya adalah Bhe Bi Cu. Meski tidak terlalu tampan, tapi sangat tenang, berwibawa, dan santun. Dia adalah satu dari 3 orang yang dihormati dan ditakuti bukan karena kesaktiannya oleh Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, adik angkatnya. Mewarisi seluruh kepandaian ayahnya (kecuali Thi-Khi-i-Beng) dan mendirikan Pek-liong-pang (Perkumpulan Naga Putih), meski akhirnya dibubarkan setelah istrinya, Ciu Lian Hong, terbunuh. Mempunyai seorang putra bernama Cia Sun. (SERIAL: Pendekar Sadis, Asmara Berdarah)

Toan Kim Hong adalah putri seorang pangeran bernama Toan Su Ong yang lari dari istana dan pendekar wanita Ouwyang Ci yang mewarisi ilmu-ilmu dari panglima The Hoo. Sebelum bertemu Thian Sin, dia menyamar sebagai nenek-nenek dan menjadi salah satu dari 4 datuk sesat, Lam Sin (Malaikat Selatan), serta memimpin Bu-beng Kai-pang yang amat disegani. Amat cantik jelita dan ilmunya hanya sedikit tingkatannya di bawah Thian Sin. Meski lebih tua 2 tahun dibanding Thian Sin, dia amat mencintai dan mengikuti semua petualangan pasangannya itu. Tinggal di pulau Teratai Merah tinggalan orangtuanya, dan mempunyai seorang putri bernama Ceng Sui Cin. (SERIAL: Pendekar Sadis, Harta Karun Jenghis Khan, Siluman Guha Tengkorak, Asmara Berdarah)

Serial Pendekar Sakti

Lu Kwan Cu adalah nama asli Pendekar Sakti Bu Pun Su, tokoh sentral di serial ini, guru dari Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan wanita sakti Ang I Nio-cu. Ilmu silatnya yang hebat adalah kemampuannya untuk mengerti inti sari dari ilmu-ilmu lawannya. Dengan cara ini ia dapat menirukan jurus-jurus lawan untuk kemudian melihat kelemahan-kelemahannya dan mengalahkannya. Ilmunya yang tersohor adalah Pek-in Hoat-sut dan Kong-ciak Sin-na. Sangat arif dan bijaksana, budiman meski terkesan keras terhadap kejahatan. Meninggal di usia senja setelah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Sie Cin Hai.

Han Le adalah sute (adik seperguruan) dari Bu Pun Su dari gurunya Ang Bin Sin Kai. Walaupun Han Le adalah sute dari Bu Pun Su, namun dia tidak menguasai ilmu yang Bu Pun Su dapat dari kitab Bu-Tek Cin-Keng. Guru dari Lie Kong Sian (suami Ang I Nio-cu) dan Song Kun (ayah Song Kam Seng). Meninggal di usia senja di pulau Pek-le-to saat menjalani hukuman yang dibuat Bu Pun Su akibat perbuatannya yang melanggar norma.

Kiang Liat adalah ayah dari Ang I Niocu Kiang Im Giok. Dia adalah murid dari Han Le, jadi masih terhitung murid kepokakan Bu Pun Su. Sebelum berguru kepada Han Le, Kiang Liat sudah menguasai jurus jurus pukulan keluarga Kiang yang cukup ampuh. Berjiwa satria namun sangat sentimentil (mudah terbawa perasaan). Meninggal akibat tidak kuat menanggung beban perasaan setelah secara salah membunuh pria yang dicintai putrinya, Ang I Niocu.

Kiang Im Giok adalah anak dari Kiang Liat. Karena ia suka memakai baju merah, nama julukannya adalah Ang I Niocu atau Dara berbaju merah. Ia menerima latihan silat dari ayahnya dan kemudian diperkuat oleh beberapa jurus dari Bu Pun Su. Ang I Niocu juga menciptakan ilmu silat sendiri dinamakan tarian bidadari. Keras hati dan sangat cantik sehingga digilai banyak pria. Menikah dengan Lie Kong Sian (juga murid Han Le) dan berputra Lie Siong. Meninggal saat menyerbu kediaman Ban Sai Cinjin untuk membalas dendam kematian suaminya.

Sie Cin Hai lebih terkenal dengan julukan Pendekar Bodoh (karena tampangnya yang culun). Dia adalah murid dari Pendekar Sakti Bu Pun Su Lu Kwan Cu. Dia mewarisi kepandaian utama dari Bu Pun Su, yaitu mengenal dasar-dasar gerakan ilmu silat. Sehingga dengan hanya memperhatikan gerakan pundak saja, dia tahu ke arah mana serangan akan ditujukan oleh lawan. Ilmu-ilmu lain yang diwarisi dari Bu Pun Su antara lain Kong-Ciak-Sin-na atau Silat Merak Sakti dan Pek-In-Hoat-Sut atau Sihir Awan Putih. Dengan bimbingan dari Ang I Niocu atau Dara Baju Merah, murid lain dari Bu Pun Su, Sie Cin Hai akhirnya menciptakan Ilmu Pedang Daun Bambu, yang tercipta dengan membayangkan kekuatan dan kelemahan ilmu-ilmu pendekar-pendekar yang pernah dihadapinya.

Kwee Lin atau Lin Lin, teman masa kecil Sie Cin Hai yang akhirnya menikahinya, adik dari pendekar Kwee An. Periang, berjiwa petualang. Ibu dari Sie Hong Beng dan Sie Hong Li (Lili).

Kwee An adalah pendekar dari Tiang-an, kakak dari Kwee Lin. Murid dari Eng Yan Cu dan secara tidak sengaja diangkat anak dan diwarisi ilmu oleh salah satu datuk sesat, Pek Moko. Beristrikan Ma Hoa dan ayah dari Kwee Goat Lan.

Ma Hoa, putri pembesar Ma yang jujur dan berani. Diangkat murid oleh Nelayan Cengeng yang juga menjodohkannya dengan Kwee An. Ciri khasnya adalah rambutnya yang dibiarkan terurai (tidak digelung atau ditali seperti umumnya) atas permintaan kekasihnya. Beruntung bisa mewarisi ilmu sepasang tongkat bambu kuning dari tokoh tua sakti misterius, Hok Peng Taisu.

 

Catatan:

1. Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Kho_Ping_Hoo

2. Pernah di unggah di http://jadul1972.multiply.com/journal/item/10/Asmaraman-Sukowati-Kho-Ping-Hoo- pada 9 Agustus 2008

Categories: Cerita Silat (Cersil) | 2 Komentar

Balicomics

Balicomics dari Bali merambah Dunia (ssst maksudnya dunia komik) qiqiqiqiqi

Balicomics adalah komunitas pecinta komik baik komik lokal (Indonesia) maupun mancanegara, yang bertujuan untuk menjembatani penggemar komik yang beda usia dan beda selera, juga untuk menggali potensi dalam dunia gambar menggambar terutama para kawula muda Bali dan sekitarnya agar senantiasa berkarya dan terus berkarya.

Balicomics sendiri lahir pada tanggal 22 Januari 2008, diawali kisah tanpa sengaja dan tanpa rupa diantara mereka bertiga yaitu Tommy Johan Agusta, Wijaya Dharma Dewa dan David Eddy Haris. Lho gimana ceritanya? Sejak 2007 mereka bertiga tidak saling kenal tapi seringkali muncul di yahoogroups komik indonesia. Di grup tersebut seringkali ada transaksi penjualan komik jadul dan komik remaster serta komik-komik baru. Suatu ketika mereka bertiga terlibat dalam rebutan target alias rebutan komik. Akhirnya mereka saling sapa dan saling kaget ternyata sama-sama dari Bali. Pelan tapi pasti dunia maya membuat mereka berusaha untuk kopdar alias kopi darat. Dan ternyata baik di dunia maya dan di dunia nyata, ulah ketiganya sama saja…. Yaitu nafsu bila melihat komik-komik jadul. Mereka bertiga sepakat untuk menamakan dirinya dengan Balicomics artinya para penggemar komik dari Bali hehehehehe.

Berbagai koleksi karya komikus Indonesia jadul sudah menjadi hiasan rak buku mereka. Berdasarkan tema diskusi, maka 10 Besar komikus yang sering dijadikan topik pembicaraan adalah:

  1. Jan Mintaraga
  2. Teguh Santosa
  3. Ganes TH
  4. Mansyur “Man” Daman
  5. Djair Warni
  6. Hasmi
  7. Gerdi WK
  8. RA Kosasih
  9. Wied NS
  10. Kho Ping Hoo (lho kok Kho Ping Hoo? itukan cerita silat, padahal ini kan komunitas komik… Hehehehe)

Kawan-kawan komikus jadul lainnya tidak boleh iri ya… Semuanya seringkali disebut juga kok, tapi ya yang masih tersisa komiknya apalagi yang juga masih online hingga saat ini. Siapa yang kira2 produktif saat itu? diantaranya adalah sebagai berikur:

  1. Absoni
  2. Abuy Ravana
  3. Ardisoma
  4. Arie
  5. Djoni Andrean
  6. Dwi Koendoro
  7. Ema Wardana
  8. Hans Jaladara
  9. Har
  10. Hengky
  11. Kelana
  12. Koesbram
  13. Mar
  14. Mater
  15. Nono GM
  16. Nurmi Ambardi
  17. Oerip
  18. Prima
  19. Pros
  20. Rim Hidarsa
  21. San Wilantara
  22. Santy Sheeba
  23. Suryana
  24. Syam Timur
  25. Taguan Hardjo
  26. Tatang S
  27. Tati
  28. Tony G
  29. USyah
  30. Widya Noor
  31. Yongky
  32. Yudah Noor
  33. Yus Chandra
  34. Dan lain lain

Kerjaan iseng yang pernah mereka lakukan adalah:

  1. Bundel Komik Sisipan karya Jan Mintaraga di berbagai majalah, yang terbagi menjadi 3 genre yaitu Roman, Legenda dan Sejarah
  2. Bundel Komik Sisipan karya Teguh Santosa di berbagai majalah, antara lain Mahesa Rani dan kisah lepas
  3. Meremaster komik di majalah Jawa karya Teguh Santosa yang berjudul “Kraman Jipang” sampai saat ini nggak kelar-kelar.

Selain itu Balicomics juga pernah bertandang ke pekerja serta penggemar komik, antara lain:

  1. Sowan ke rumah pak Hasmi (komikus) di Yogyakarta
  2. Sowan ke rumah Erwin Prima Arya (penggemar komik yang hobby meremaster) di Depok
  3. Sowan ke rumah Erwan Sofyan (penggemar komik dan cersil) di Tangerang
  4. Sowan ke Pluz+ di Plaza Semanggi Jakarta
  5. Sowan ke rumah Unggul Setiadi (penggemar komik dan keris) di Bekasi
  6. Sowan ke rumah Dodit Sulaksono (pedagang komik dan cersil) di Malang
  7. Ramah Tamah bersama Adji Prasetyo (komikus yang musikus) di Malang
  8. Janjian ketemu Muhammad Ridwan di Pluz+
  9. Sowan ke toko komik Anjaya di Kuningan
  10. Bertemu Bing Cahyono (penggemar komik dan cersil) di Tunjungan Plaza Surabaya
  11. Bertemu dengan Arum Dwi Wahyuni (penggemar komik) di BG Junction Surabaya
  12. Bertemu Pluz+, Faradi, Apriyadi Kusbiantoro di Yogyakarta

Bertiga memang menyenangkan tapi berempat sangat mengasyikan… Mengapa demikian? Karena sejak tahun 2010, Balicomics sudah tidak bertiga lagi tapi berempat yaitu foundernya bertambah satu Putu G Wisnu. Kwartet ini tidak pernah bosan untuk berkumpul-berkumpul dan berkumpul untuk saling sharing komik baik komik indonesia maupun mancanegara. Gairah untuk belajar komik Amerika adalah dari Putu, karena dia sangat paham tentang komik Superhero Amerika macam Superman, Batman, Green Lantern dan lain-lain.

Markas Balicomics di Tukad Barito Panjer sudah sering di satroni para penggemar dan komikus serta novelis, antara lain:

  1. Mama Linda Mintaraga (istri Jan Mintaraga)
  2. Lisa Febriyanti (Novelis)
  3. Farady Widhiasto (Mahasiswa ISI Yogyakarta)
  4. Achmad Zeni (bertemu di Kuta)
  5. Erwin Prima Arya
  6. Akhmad Makhfat dan Chairul (dari Metha Studio) Yogyakarta
  7. Sundoro (Pustaka Lebah)
  8. Adji Widodo penggemar komik Amerika
  9. Toni Masdiono (komikus dan dosen Seni Rupa)
  10. Dwi Ranu Sudjatmiko (penggemar komik)
  11. Unggul Setiadi (penggemar komik)
  12. Andy Wijaya (kolektor dan pekerja komik)
  13. Admira Wijayanto (pekerja komik) dari Malang
  14. Gienardi Santoso (putra Ganes TH yang pekerja komik)

Pernah juga suatu ketika diundang oleh TVRI Bali sebagai narasumber dialog budaya, diwakili oleh Tommy Johan Agusta dan David Eddy Haris. Dalam kesempatan ini juga di undang mantan komikus Bali yaitu Gus Martin, yang berhenti sebagai komikus akibat menjadi kuli tinta di harian Bali Pos. Akan tetapi informasi terakhir pak Gus Martin di rekrut sebagai Pimpred Koran Renon.

Dilanjutkan dengan Pameran Komik di Bokashi Farm milik Pak Olesh di Waribang. Ikut serta mendukung Pameran Grafis di Bentara Budaya.

Balicomics masih semangat untuk membaca dan diskusi serta mengomentari isi, sehingga janganlah protes bila komik-komik itu memang harus di caci dan di beli hehehehe

Categories: Komik | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.